Sosial Media
Layanan Sosial Media Terbaik di Indonesia...!!

Beranda » Parenting » Mengenal Pola Asuh Otoritatif: Ciri dan Dampaknya pada Anak, Bisa Bikin Si Kecil Lebih Bahagia

Mengenal Pola Asuh Otoritatif: Ciri dan Dampaknya pada Anak, Bisa Bikin Si Kecil Lebih Bahagia

Diposting pada 10/07/2024 oleh ◦ Dilihat: 11x ◦ Kategori: Parenting
Mengenal Pola Asuh Otoritatif: Ciri dan Dampaknya pada Anak, Bisa Bikin Si Kecil Lebih Bahagia


Jakarta

Ada beragam spesies pola asuh nan dapat Ibunda terapkan pada Si Mini. Salah satunya pola asuh otoritatif, nan disebut-sebut mampu bikin anak lebih senang.

Pola asuh otoritatif ialah spesies pengasuhan nan ditandai dengan tuntutan nan wajar dan energi tanggap nan tinggi. Meskipun orang tua mempunyai ekspektasi nan tinggi terhadap anak, mereka juga memberikan copyright energi dan support nan diperlukan.

Orang tua nan memberitahu sifat otoritatif ialah dengan ingin mendengarkan gagasan anak, serta memberikan cinta dan kehangatan di samping batas dan disiplin nan setara. Pendekatan dalam pengasuhan ini biasanya menghindari balasan dan gertakan, serta lebih mengandalkan taktik seperti afirmasi positif.



Apa itu Pola Asuh Otoritatif?

Dikutip dari Psych Central, pola asuh otoritatif merupakan sesuatu nan berselisih dari pola asuh otoriter, walau sekilas tampak sama.

Pola asuh otoritatif ialah filosofi pengasuhan nan dikembangkan pada tahun 1960an oleh psikolog tumbuh bunga berjulukan Diana Baumrind. Keberadaan pola asuh ini bermaksud untuk mencapai keseimbangan antara struktur dan pengasuhan.

“Orang tua nan menggunakan style otoritatif memiliki ekspektasi tertentu terhadap anak, tetapi mereka menggunakan rasa bakti untuk mendorong perilaku nan baik,” ungkap konselor kesehatan mental, Jaclyn Gulotta.

Dengan kata lain, orang tua dengan pola asuh ini bakal menetapkan batas dan patokan nan jelas untuk anak, tetapi juga memberi copyright energi dan support nan dibutuhkan untuk memenuhi impian tersebut.

Orang tua juga memberikan ruang untuk percakapan dan kompromi dalam korelasi komunikasi dengan anak mereka.

“Style pengasuhan ini umumnya berkarakter jauh lebih demokratis. Orang tua responsif terhadap anak dan bakal mendengarkan keluhan alias pertanyaan apa pun nan anak miliki terkait peraturan nan ditetapkan,” imbuh master sosial klinis Brent Metcalf.

Karakteristik-ciri Orang Tua nan Menerapkan Pola Asuh Otoritatif

Lampau seperti contoh pola asuh otoritatif nan biasanya diterapkan orang tua? Dikutip dari Very Well Mind, Baumrind menyebut bahwa contoh otoritatif biasanya ditunjukkan dalam karakter berikut:

  1. Menerapkan disiplin nan setara dan konsisten ketika peraturan dilanggar
  2. Memberi peluang pada anak untuk menyampaikan gagasan
  3. Mendorong anak untuk mendiskusikan pilihan-pilihan
  4. Mengekspresikan kehangatan dan pengasuhan positif
  5. Menumbuhkan kemandirian dan penalaran
  6. Ingin mendengarkan anak sepenuhnya
  7. Memberikan batas, akibat, dan impian terhadap perilaku anak

Meskipun ekspektasi orang tua dengan pola asuh ini mampu saja tinggi, mereka juga condong elastis. Jikalau ada keadaan nan meringankan, orang tua dapat menyesuaikan tanggapannya.

Dengan kata lain, orang tua berkecukupan menyesuaikan berjuntai pada situasi, kebutuhan anak, dan aspek lain nan mungkin ada. Jadi, disiplin nan ditetapkan bakal memperhitungkan semua variabel termasuk perilaku anak, situasi, dan sebagainya.

Langkah supaya Orang Tua Mampu Menerapkan Pola Asuh Otoritatif

Jikalau Ibunda tertarik untuk menjadi orang tua dengan pola asuh otoritatif, perlu diingat bahwa diperlukan keseimbangan antara disiplin, pengendalian perasaan, dan kemandirian. Gimana langkah menerapkannya dalam pengasuhan sehari-hari?

  • Tetapkan patokan dan komunikasikan panduan, batas, dan impian atas perilaku anak
  • Tetapkan akibat ketika patokan dilanggar dan tindak lanjuti ketika impian tidak terpenuhi
  • Bersikaplah penuh kasih sayang, hangat, empati, dan suportif terhadap anak
  • Berfokuslah untuk membangun korelasi nan kuat dan suportif dengan anak, ketimbang mengendalikan segala sesuatu nan mereka lakukan
  • Sorong anak untuk berdikari dan biarkan mereka merasakan akibat dari tindakannya

Cobalah untuk tidak bersikap terlalu keras alias terlalu halus. Ibunda dapat memulai contoh pola asuh otoritatif dengan membiarkan anak adopsi lebih banyak keputusan dan berkompromi secara rutin terkait pilihan tersebut. 

Metode pengasuhan ini bakal menjadi lebih alami seiring dengan waktu, perhatian, dan elastisitas sesuai kebutuhan anak.

Akibat Pola Asuh Otoritatif pada Perilaku Anak

Di masa lampau, para profesional evolusi anak nan dipengaruhi oleh karya Baumrind umumnya mengidentifikasi style pengasuhan otoritatif sebagai pendekatan pengasuhan terbaik.

Eksperimen telah berulang kali memberitahu bahwa anak-anak nan dibesarkan oleh sifat otoritatif condong lebih berkecukupan, senang, dan berhasil. Menurut Baumrind, anak dari orang tua nan berkarisma:

  • Lebih yakin diri tentang keahlian mereka untuk mempelajari hal-hal baru
  • Mempunyai keahlian sosial nan baik
  • Mempunyai kontrol dan izin perasaan nan baik
  • Condong mempunyai karakteristik nan lebih senang

Eksperimen memberitahu bahwa pola asuh otoritatif dikaitkan dengan evolusi nan lebih optimal pada:

  • Produktivitas
  • Keahlian memecahkan masalah
  • Nilai diri
  • Izin emosional
  • Kemandirian
  • Yakin diri

Meskipun pola asuh otoritatif sering dipandang sebagai pendekatan nan paling ampuh, krusial untuk menyadari bahwa beragam aspek berkedudukan dalam hasil evolusi.

Contoh Perilaku Orang Tua dan Anak nan Menerapkan Authoritative Parenting

Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/Nattakorn Maneerat

Berikut beberapa contoh perilaku orang tua dan anak nan menerapkan pola asuh otoritatif:

  1. Orang tua menetapkan daftar profesi domestik rumah, tetapi memberikan anak pilihan tugas mana nan mau menjadi tanggung jawabnya
  2. Menetapkan ekspektasi, batas, alias patokan nan jelas untuk anak dan menyampaikannya terlebih dulu
  3. Merasa betah menjelaskan tidak kepada anak
  4. Menindaklanjuti dengan disiplin nan setara dan konsisten ketika impian tidak terpenuhi alias peraturan dilanggar
  5. Ingin mendengarkan anak-anak saat mereka jengkel, kecewa, alias merasakan perasaan besar lainnya
  6. Mendorong anak untuk beranggapan 
  7. Bersikap hangat, empati, penuh kasih sayang dan penuh kasih sayang
  8. Menumbuhkan kemandirian sekaligus membiarkan anak merasakan konsekuensi dari pilihan alias tindakannya sendiri
  9. Mendukung ambisi dan minat anak dengan memberi mereka hal-hal nan diperlukan, bukan dengan memberdayakannya

Apakah Pola Asuh Otoritatif ialah Pilihan nan Terbaik untuk Anak?

Susah untuk menjelaskan dengan pasti apakah pola asuh otoritatif ialah pilihan nan terbaik. Psikolog dan orang tua sering kali berselisih gagasan tentang langkah terbaik untuk membesarkan anak. Tidak semua anak memberikan respons nan sama terhadap batas, patokan, alias apalagi support dan pengasuhan orang tua.

Ada juga banyak aspek berselisih nan memengaruhi evolusi dan kesehatan mental setiap anak. Perihal ini dapat membatasi efektivitas satu style pengasuhan tertentu.

Namun banyak psikolog, penganalisis, dan master evolusi anak, termasuk Metcalf dan Gulotta, nan mendukung khasiat pola asuh otoritatif lantaran manfaatnya.

“Pola asuh ini mungkin lebih ampuh dibandingkan style pengasuhan lainnya, lantaran menaikkan rasa kondusif dan stabilitas dari orang tua. Anak-anak mungkin merasa lebih dihormati, apalagi ketika mereka sedang dilatih kedisiplinannya,” ungkap Gulotta.

Eksperimen juga memberitahu bahwa pola asuh otoritatif mampu sangat berfaedah bagi anak-anak. Seperti salah satunya disebutkan dalam sebuah studi tahun 2015 dari Procedia Social and Behavioral Sciences, nan menemukan bahwa style pengasuhan otoritatif dapat menaikkan produktivitas pada anak.

Sebuah studi lainnya di tahun 2021 dari Journal of Applied Developmental Psychology memberitahu bahwa pola asuh ini dapat berakibat positif pada nilai diri dan keahlian pemecahan masalah.

Perbedaan Pola Otoriter dan Otoritatif, Mana nan Lebih Baik?

Perbedaan otoriter dan otoritatif dapat dilihat dari perilaku nan ditunjukkan oleh orang tua pada keseharian anak. Berikut ulasan tentang perbedaan otoriter dan otoritatif:

Pola asuh otoritatif

  • Memerintah tetapi memberi support nan diperlukan
  • Berfokus pada penguatan perilaku nan diinginkan
  • Memberikan struktur, panduan, dan impian
  • Keterlibatan signifikan dalam hayat anak

Pola asuh otoriter

  • Terlalu ketat dan tidak mendukung gagasan anak
  • Berfokus pada menghukum kesalahan anak
  • Patokan sering kali ditegakkan dengan keras
  • Cuma ada sedikit keterlibatan dalam hayat seorang anak

Anak dengan orang tua nan otoritatif berpotensi tumbuh menjadi anak nan disiplin, lantaran mempunyai support dan pengarahan untuk mendorong perilaku nan diinginkan di masa depan. Nah, apakah Ibunda sudah menerapkan pengasuhan ini?

Bagi Ibunda nan ingin sharing soal parenting dan mampu dapat banyak giveaway, yuk join organisasi socialmedia Squad. Daftar klik di SINI. Cuma-cuma!

(fir/fir)

Bagikan ke

Mengenal Pola Asuh Otoritatif: Ciri dan Dampaknya pada Anak, Bisa Bikin Si Kecil Lebih Bahagia

Komentar (0)

Saat ini belum tersedia komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi

*

*

Mengenal Pola Asuh Otoritatif: Ciri dan Dampaknya pada Anak, Bisa Bikin Si Kecil Lebih Bahagia

Admin
● online
Halo, perkenalkan nama saya Admin
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja